Senin, 26 Maret 2012

PUISI: Aku dan Para Sahabat


Aku dan Para Sahabat

Tanpa henti aku bernyanyi
Riang gembira disenja ini
Akankah ada hati yang luka
Jika telah seindah ini

Jika dada rasa hampa
Siapa yang akan memberi tawa
Hanya kepada teman aku merintih

Sakit dan senang kami rasakan
Masih adakah hari seindah ini
Jika nanti semua telah pergi

Kenang, kenanglah masa ini
Kelak kan ada hari
Untuk kita saling berbagi
Wahai sahabat, inilah masa kita
Janganlah disia-siakan

Ini untuk kita
Aku dan para sahabatku

Kamis, 08 Maret 2012

PERTEMUAN SINGKAT


            Rutinitas sekolah yang membuat tubuhku terasa lelah kadang membuat aku tak bisa merasakan kehidupan para remaja lainnya. Aku selalu disibukkan dengan kegiatan-kegiatan sekolah untuk menjadi ketua lomba, ketua dari suatu kegiatan, dan lainnya. Hari itu adalah ulangtahun sekolahku yang bertepatan dengan hari kartini. Karena guru telah sepenuhnya mempercayai hasil kerjaku,  maka untuk kali ini aku dipersilahkan untuk menjadi ketua perancang seluruhkegiatan yang akan ditampilkan di acara ulangtahun sekolahku itu.
            Singkat cerita, acara ulangtahun sekolahku itu berjalan dengan baik dan menyenangkan. Akupun mendapatkan pujian dari teman-temanku. Setelah kegiatan pada sore itu selesai, aku pulang dengan langkah tak bersemangat menuju rumahku yang lumayan jauh dari sekolah.
            Sejak setengah jam berjalan dari sekolah menuju rumah, akhirnya tepat pukul 17.30 aku sudah sampai dirumah. Tak tanggung-tanggung, akupun bergegas menuju kamarku. Dengan sigapnya mengganti pakaian dan menuju kamar mandi. Dan “bbrrrukkk!” suara tubuhku yang aku hempaskan ketempat tidur begitu kerasnya hingga menyakitkan bagian belakang tubuhku. Tapi aku tak menghiraukannya karena rasa lelah yang begitu hebat dan membuat aku tertidur pulas hingga menjelang malam.
            “Krriiinnggg,kriiinggg… krriiiing,krrriiiinnnggg…” telepon rumahku berbunyi sangat keras. Aku yang sedang tertidur pulas akhirnya terbangun. Dengan gerakan lamban, akupun mengangkat telepon itu.
            “Halo,halo, saaa, dimana kamu sekarang?” ucap Kyana sambil terburu-buru
            “Iyaaaaa… aku dirumah Ky, ada apa?” jawabku dengan malas
            “Aku didepan rumah kamu sa!”
            Tanpa menutup telepon aku langsung bergegas turun kebawah membukakan pintu untuk sahabatku yang agak sedikit menjengkelkan itu. Dia memang sudah sejak lama menjadi temanku, sejak aku berumur 5 tahun. Tak heran jika Papa dan Mama juga sangat mengenal Kyana.
Dengan raut muka kesal, Kyana masuk kerumahku tanpa basa-basi.
            “Ky, kamu kenapa? Muka kamu seperti sedang marah dengan seseorang?”
            “Nggak Sa. Ini aku lagi marah masih kamu tanya juga!” sambil membantingkan              tubuhnya ketempat tidur
            “Iya maaf. Marah sama siapa Ky?” aku menoleh dan bertanya padanya
            “Gara-gara siapa lagi kalau bukan gara-gara…”
            Dengan cepat aku memotong pembicaraan Kyana.
            “Gara-gara Yuda si bocah tengil itu ya Ky”
            “Iya, Yuda marah. Gara-gara aku cemburu ada cewek SMS kenomor dia! ”
            “Hahaha. Sudahlah, cowok seperti itu tak pantas untuk dipikirkan. Salah kamu              juga sih Ky, masa Cuma gara-gara ada cewek yang SMS Yuda kamu langsung ,              siapa tahu itu cuma teman atau rekan aja kan?”
            “Tapi Sa…”
            “Sssssttt. Udah mendingan kita jalan-jalan aja. Aku pusing dirumah Ky.
            “Terus, mau jalan-jalan kemana? Pasti nanya sama aku lagi.”
            “Hehe. Iya, kok tahu sih Ky? ” dengan raut muka menggoda Kyana yang sedang               kesal
            “Ah, kamu memang dari dulu bodohnya nggak hilang-hilang Sa. Jadi aku nggak               ditanyapun kalau tentang kamu pasti sudah tahu tabiatnya.” Kyana menjawab              dengan raut muka sinis
            “Aku ganti baju yah Ky, tunggu sebentar.”
            “Iya. Sa, tadi kebetulan temanku SMS, katanya mereka ingin jalan sama kita              juga.” Kyana berbicara dengan nada datar
            “Oh gitu. Kalau begitu sebaiknya kita janjian ditempat biasa Ky.”
            “Kamu serius Sa? Biasanya kamu selalu nolak kalau aku sama mereka.”
            “Khusus mala mini, everthing for you Kyana…”
            “Ah, kamu Sa, ada-ada saja.”
            Aku dan Kyana bergegas pergi dari rumah menuju CafĂ© Crescent, tempat anak-anak muda yang ramai dikunjungi menjelang sabtu malam. Setelah aku dan Kyana dating, ternyata mereka sudah terlebih dahulu dating kesana. Mereka menyambut kami dengan rasa hangat dan bersahabat.
            “Hai!” ucap Kyana keapda mereka dengan penuh semangat seakan-akan tidak              pernah terjadi apa-apa sebelumnya
            “Hai juga Kyana, apa kabar?” salah satu dari mereka kemudian menjawab sapaan              Kyana 
            “baik-baik saja.”
            “Kamu sama siapa Ky?”
            “Ya ampun, hamper saja aku lupa! Perkenalkan, ini sahabatku Vaelisa.”
            Dengan sigap aku mengulurkan tanganku dan menyapa mereka. Dengan rasa yang agak sedikit canggung, aku mulai memperkenalkan diri. Kyanapun tak tanggung-tanggung memperkenalkan mereka satu per satu.
            “Ini namanya Rey, ini Elsi, ini Rudi, dan ini Aldy.”
            Sebenarnya rasa gemetar telah membuat raut wajahku agak sedikit kaku. Tak tahu mengapa sejak perkenalan tadi, ada sedikit rasa yang berbeda. Puncaknya setelah aku mengulurkan tanganku kepada Aldy, dia membalasku dengan senyuman manis sambil berkata
            “Namaku Aldy.” Dia menatapku dalam
            Sejak perkenalan itu, kamipun larut dalam suasana yang menyenangkan. Mungkin Kyana juga sudah lupa dengan masalah dengan pacarnya. Kami bercanda dan tertawa layaknya teman lama yang baru saja berkesempatan untuk bertemu.
            Meskipun suasana pada malam itu menyenangkan, ada seseorang yang membuat aku penasaran setengah mati. Ya! Dia memang Aldy, entah mengapa hingga suasana begitu menyenangkanpun ia masih berdiam diri dan tak banyak bicara.
            Seminggu kemudian setelah kejadian dimalam minggu kemarin, semua berjalan biasa saja. Hanya saja tiba-tiba pagi itu aku dipanggil untuk menemui Bu Laras. Sempat aku berpikir bahwa aku akan dimarahi lantaran nilai ulanganku yang jelek. Hingga akhirnya aku keluar dari ruangan Bu Laras, ternyata pikiranku ini telah terlampau jauh. Bu Laras hanya ingin menyuruhku untuk merancang acara reuni akbar yang bertujuan untuk menggalang dana yang disumbangkan dari alumni-alumni sekolah ini.
            Beberapa hari kemudian, segala persiapan telah aku selesaikan. Hanya dibagian hiburan saja yang sedikit agak bermasalah. Akhirnya aku minta bantuan Kyana untuk mencarikan sebuah grup band untuk mengisi acara reuni itu. Dan Kyanapun telah siap dengan gruo band yang akan mengisi acara itu. Akupun sempat terheran-heran karena Kyana yang biasanya sering menunda-nunda pekerjaan kini dengan cepat sudah mendapatkan grup band yang tepat. Entah siapa yang akan tampil nanti tapi Kyana telah berjanji untuk tidak mengecewakanku.
            Acarapun dimulai. Dengan senangnya hari itu aku menyambut kedatangan sahabat-sahabatku yang telah menjadi mahasiswa. Aku berdiri di tengah lapangan luas agak jauh dari panggung untuk menyaksikan betapa hebatnya acara yang aku rancang ini. Hingga pembawa acara menyebutkan nama band yang akan tampil aku tetap tak beranjak dari tempat itu.
            Sontak aku terkejut ketika aku melihat seseorang yang berdiri dengan tegaknya diatas panggung sambil memegang gitar. Dia menyayikan sebuah lagu yang membuat aku semakin tak sadar dengan keadaan disekitarku.
            Aku masih terdiam ditempat itu tak bisa berkata apapun hingga didepanku ternyata ada seseorang yang berusaha menyadarkanku dari lamunan gila ini. Untuk kedua kalinya aku bertemu dengan cowok super cuek ini.
            “Kamu Va,va…”
            “Aku Va vallliiissssaaa” dengan terbata-bata aku menyebutkan namaku
            “Oh iya. Maaf aku lupa. Kamu masih ingat aku kan?”
            “Maa maa masss ssihhh.”
            “Kamu kenapa? Aku ganggu kamu ya Sa?”
            “Nggak Al. kamu nggak ganggu kok.
            Percakapan itupun tak berlangsung lama, karena Aldy telah mempunyai jadwal manggung ditempat lain. Sejak saat itu mendadak Aldy sering mengirimkan aku surat serta coklat yang diselipkan didalam surat itu. Dan seperti anak muda lainnya kami sering nonton dibioskop berdua.
            Malam ini aku dan Aldy berjalan kesebuah pantai yang tak jauh dari rumahku. Seperti biasa dengan senyuman dan tatapan matanya yang membuat aku dimabuk kepayang kini semakin menyorot perhatianku. Dia mengeluarkan coklat yang dikantonginya sejak tadi dan memberikannya kepadaku.
            “Vaelisaku. Aku Cuma ingin kamu tahu sejak pertama aku mengenal kamu aku    merasa diri aku berbeda. Tak seperti biasanya. Mungkin dimata kamu aku Cuma mauin-main atau sekedar merayu. Tapi inilah perasaan yang sesungguhnya aku rasakan sejek mengenal kamu. Aku suka sama kamu sa. Aku nggak mau menyesal kalau suatu hari nanti aku nggak bisa menyatakan perasaan aku ke kamu sa.”
            Aku hanya tersenyum mendengarkan perkataan Aldy. Tak lama setelah ia berkata seperti itu, dia mengusap rambutku dengan manja dan mencium keningku.
            Tapi sayangnya cerita kami tak berlanjut sampai tahap pacaran. Karena setelah terakhir pertemuan dimalam itu aku tak pernah lagi mendapatkan surat darinya. Dia juga tak pernah lagi berkunjung kerumahku.
            Aku bingung dan aku tak pernah tahu apa yang harus aku lakukan. Aku memang baru pertama kali merasakan perasaan yang begitu dalam kepada lawan jenisku. Untuk pertama kalinya aku merasakan cinta, meresapi makna yang ada didalamnya.
            Hingga akhirnya aku memutuskan untuk melupakan segala tentangnya. Berusaha untuk menghilangkan kenangan indah yang baru pertama kali aku rasakan.
            Beberapa tahun setelah kepergiannya, Kyana memberikan kabar yang amat mengejutkanku. Kabar yang mengharuskanku untuk mengingat kenangan dimasa lalu. Kenangan yang telah tersimpan kini harus ku putar kembali.
            “Vaelisa, sebelumnya aku minta maaf sama kamu. Aku bukan bermaksud 
            untuk menyembunyikan semuanya dari kamu. Tapi aku hanya menuruti
            perkataan Aldy, Sa. Aku tak tega jika harus melihat ia memohon-mohon seperti
            itu.”
            “Sudahlah Ky. Itu hanya sebuah masa lalu.” Jawabku dengan nada datar
            “Begini Sa, sebenarnya, Aldy itu pecandu narkoba.”
            Mendengar perkataan Kyana, aku jadi sudah tak bersemangat untuk mendengarnya. Rasanya telingaku telah tersumbat dengan kapas setebal batu kerikil.
            “Tunggu dulu Sa. Aku belum selesai.”
            Kyanapun melanjutkan ceritanya.
            “Dia memang pecandu narkoba, tapi sebenarnya dia itu tulus sama kamu Sa. Aku telah lama mengenal Aldy. Dia tak pernah jatuh cinta dengan seorang wanita. Wanita itu Cuma dianggap sebagai perusak hidupnya. Dia jadi seorang pecandu narkoba karena dia kecewa dengan Mamanya yang telah mengkhianati Papanya. Mamanya meninggalkan rumah dan pergi dengan laki-laki lain. Tapi, sejak kehadiran kamu dia merasakan itu semua. Merasakan apa yang dinamakan cinta dan bagaimana cara memberikan cinta yang tulus kepada orang lain.”
            “Iya Ky. Ini bukan salah kamu kok. Mungkin keadaan yang membuat aku dan 
             Aldy tak bisa bersatu. Sekarang dia dimana Ky?
            “dia disurga Sa.”
            Aku tak bisa menahan lagi air mata ini, sungguh kali ini aku lemah. Aku hanya tak menyangka hari ini semuanya benar-benar berakhir. Cukup sampai disini, ku harus memahami waktu dan takdir, bahwa waktu dan takdir tak mengijikan kita menjalin sebuah perasaan yang semakin jauh, bahwa cinta kita tak bisa bersatu, tak saling memiliki, dan tersadar cinta ini hanya untuk sekali seumur hidupku.