Rutinitas sekolah yang membuat tubuhku
terasa lelah kadang membuat aku tak bisa merasakan kehidupan para remaja
lainnya. Aku selalu disibukkan dengan kegiatan-kegiatan sekolah untuk menjadi
ketua lomba, ketua dari suatu kegiatan, dan lainnya. Hari itu adalah ulangtahun
sekolahku yang bertepatan dengan hari kartini. Karena guru telah sepenuhnya
mempercayai hasil kerjaku, maka untuk
kali ini aku dipersilahkan untuk menjadi ketua perancang seluruhkegiatan yang
akan ditampilkan di acara ulangtahun sekolahku itu.
Singkat
cerita, acara ulangtahun sekolahku itu berjalan dengan baik dan menyenangkan.
Akupun mendapatkan pujian dari teman-temanku. Setelah kegiatan pada sore itu
selesai, aku pulang dengan langkah tak bersemangat menuju rumahku yang lumayan
jauh dari sekolah.
Sejak
setengah jam berjalan dari sekolah menuju rumah, akhirnya tepat pukul 17.30 aku
sudah sampai dirumah. Tak tanggung-tanggung, akupun bergegas menuju kamarku.
Dengan sigapnya mengganti pakaian dan menuju kamar mandi. Dan “bbrrrukkk!” suara
tubuhku yang aku hempaskan ketempat tidur begitu kerasnya hingga menyakitkan
bagian belakang tubuhku. Tapi aku tak menghiraukannya karena rasa lelah yang
begitu hebat dan membuat aku tertidur pulas hingga menjelang malam.
“Krriiinnggg,kriiinggg…
krriiiing,krrriiiinnnggg…” telepon rumahku berbunyi sangat keras. Aku yang
sedang tertidur pulas akhirnya terbangun. Dengan gerakan lamban, akupun
mengangkat telepon itu.
“Halo,halo,
saaa, dimana kamu sekarang?” ucap Kyana sambil terburu-buru
“Iyaaaaa…
aku dirumah Ky, ada apa?” jawabku dengan malas
“Aku
didepan rumah kamu sa!”
Tanpa
menutup telepon aku langsung bergegas turun kebawah membukakan pintu untuk
sahabatku yang agak sedikit menjengkelkan itu. Dia memang sudah sejak lama
menjadi temanku, sejak aku berumur 5 tahun. Tak heran jika Papa dan Mama juga
sangat mengenal Kyana.
Dengan raut muka kesal, Kyana masuk
kerumahku tanpa basa-basi.
“Ky,
kamu kenapa? Muka kamu seperti sedang marah dengan seseorang?”
“Nggak
Sa. Ini aku lagi marah masih kamu tanya juga!” sambil membantingkan tubuhnya ketempat tidur
“Iya
maaf. Marah sama siapa Ky?” aku menoleh dan bertanya padanya
“Gara-gara
siapa lagi kalau bukan gara-gara…”
Dengan
cepat aku memotong pembicaraan Kyana.
“Gara-gara
Yuda si bocah tengil itu ya Ky”
“Iya,
Yuda marah. Gara-gara aku cemburu ada cewek SMS kenomor dia! ”
“Hahaha.
Sudahlah, cowok seperti itu tak pantas untuk dipikirkan. Salah kamu juga sih
Ky, masa Cuma gara-gara ada cewek yang SMS Yuda kamu langsung , siapa tahu itu cuma teman atau rekan aja
kan?”
“Tapi
Sa…”
“Sssssttt.
Udah mendingan kita jalan-jalan aja. Aku pusing dirumah Ky.
“Terus,
mau jalan-jalan kemana? Pasti nanya sama aku lagi.”
“Hehe.
Iya, kok tahu sih Ky? ” dengan raut muka menggoda Kyana yang sedang kesal
“Ah,
kamu memang dari dulu bodohnya nggak hilang-hilang Sa. Jadi aku nggak ditanyapun
kalau tentang kamu pasti sudah tahu tabiatnya.” Kyana menjawab dengan raut muka sinis
“Aku
ganti baju yah Ky, tunggu sebentar.”
“Iya.
Sa, tadi kebetulan temanku SMS, katanya mereka ingin jalan sama kita juga.” Kyana berbicara dengan nada datar
“Oh
gitu. Kalau begitu sebaiknya kita janjian ditempat biasa Ky.”
“Kamu
serius Sa? Biasanya kamu selalu nolak kalau aku sama mereka.”
“Khusus
mala mini, everthing for you Kyana…”
“Ah,
kamu Sa, ada-ada saja.”
Aku
dan Kyana bergegas pergi dari rumah menuju Café Crescent, tempat anak-anak muda
yang ramai dikunjungi menjelang sabtu malam. Setelah aku dan Kyana dating,
ternyata mereka sudah terlebih dahulu dating kesana. Mereka menyambut kami
dengan rasa hangat dan bersahabat.
“Hai!”
ucap Kyana keapda mereka dengan penuh semangat seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya
“Hai
juga Kyana, apa kabar?” salah satu dari mereka kemudian menjawab sapaan Kyana
“baik-baik
saja.”
“Kamu
sama siapa Ky?”
“Ya
ampun, hamper saja aku lupa! Perkenalkan, ini sahabatku Vaelisa.”
Dengan
sigap aku mengulurkan tanganku dan menyapa mereka. Dengan rasa yang agak
sedikit canggung, aku mulai memperkenalkan diri. Kyanapun tak tanggung-tanggung
memperkenalkan mereka satu per satu.
“Ini
namanya Rey, ini Elsi, ini Rudi, dan ini Aldy.”
Sebenarnya
rasa gemetar telah membuat raut wajahku agak sedikit kaku. Tak tahu mengapa
sejak perkenalan tadi, ada sedikit rasa yang berbeda. Puncaknya setelah aku
mengulurkan tanganku kepada Aldy, dia membalasku dengan senyuman manis sambil
berkata
“Namaku
Aldy.” Dia menatapku dalam
Sejak
perkenalan itu, kamipun larut dalam suasana yang menyenangkan. Mungkin Kyana
juga sudah lupa dengan masalah dengan pacarnya. Kami bercanda dan tertawa
layaknya teman lama yang baru saja berkesempatan untuk bertemu.
Meskipun
suasana pada malam itu menyenangkan, ada seseorang yang membuat aku penasaran
setengah mati. Ya! Dia memang Aldy, entah mengapa hingga suasana begitu
menyenangkanpun ia masih berdiam diri dan tak banyak bicara.
Seminggu
kemudian setelah kejadian dimalam minggu kemarin, semua berjalan biasa saja.
Hanya saja tiba-tiba pagi itu aku dipanggil untuk menemui Bu Laras. Sempat aku
berpikir bahwa aku akan dimarahi lantaran nilai ulanganku yang jelek. Hingga
akhirnya aku keluar dari ruangan Bu Laras, ternyata pikiranku ini telah
terlampau jauh. Bu Laras hanya ingin menyuruhku untuk merancang acara reuni
akbar yang bertujuan untuk menggalang dana yang disumbangkan dari alumni-alumni
sekolah ini.
Beberapa
hari kemudian, segala persiapan telah aku selesaikan. Hanya dibagian hiburan
saja yang sedikit agak bermasalah. Akhirnya aku minta bantuan Kyana untuk
mencarikan sebuah grup band untuk mengisi acara reuni itu. Dan Kyanapun telah
siap dengan gruo band yang akan mengisi acara itu. Akupun sempat terheran-heran
karena Kyana yang biasanya sering menunda-nunda pekerjaan kini dengan cepat
sudah mendapatkan grup band yang tepat. Entah siapa yang akan tampil nanti tapi
Kyana telah berjanji untuk tidak mengecewakanku.
Acarapun
dimulai. Dengan senangnya hari itu aku menyambut kedatangan sahabat-sahabatku
yang telah menjadi mahasiswa. Aku berdiri di tengah lapangan luas agak jauh
dari panggung untuk menyaksikan betapa hebatnya acara yang aku rancang ini.
Hingga pembawa acara menyebutkan nama band yang akan tampil aku tetap tak
beranjak dari tempat itu.
Sontak
aku terkejut ketika aku melihat seseorang yang berdiri dengan tegaknya diatas
panggung sambil memegang gitar. Dia menyayikan sebuah lagu yang membuat aku
semakin tak sadar dengan keadaan disekitarku.
Aku
masih terdiam ditempat itu tak bisa berkata apapun hingga didepanku ternyata
ada seseorang yang berusaha menyadarkanku dari lamunan gila ini. Untuk kedua kalinya
aku bertemu dengan cowok super cuek ini.
“Kamu
Va,va…”
“Aku
Va vallliiissssaaa” dengan terbata-bata aku menyebutkan namaku
“Oh
iya. Maaf aku lupa. Kamu masih ingat aku kan?”
“Maa
maa masss ssihhh.”
“Kamu
kenapa? Aku ganggu kamu ya Sa?”
“Nggak
Al. kamu nggak ganggu kok.”
Percakapan
itupun tak berlangsung lama, karena Aldy telah mempunyai jadwal manggung
ditempat lain. Sejak saat itu mendadak Aldy sering mengirimkan aku surat serta
coklat yang diselipkan didalam surat itu. Dan seperti anak muda lainnya kami
sering nonton dibioskop berdua.
Malam
ini aku dan Aldy berjalan kesebuah pantai yang tak jauh dari rumahku. Seperti
biasa dengan senyuman dan tatapan matanya yang membuat aku dimabuk kepayang
kini semakin menyorot perhatianku. Dia mengeluarkan coklat yang dikantonginya
sejak tadi dan memberikannya kepadaku.
“Vaelisaku.
Aku Cuma ingin kamu tahu sejak pertama aku mengenal kamu aku merasa diri aku
berbeda. Tak seperti biasanya. Mungkin dimata kamu aku Cuma mauin-main atau
sekedar merayu. Tapi inilah perasaan yang sesungguhnya aku rasakan sejek
mengenal kamu. Aku suka sama kamu sa. Aku nggak mau menyesal kalau suatu hari
nanti aku nggak bisa menyatakan perasaan aku ke kamu sa.”
Aku
hanya tersenyum mendengarkan perkataan Aldy. Tak lama setelah ia berkata
seperti itu, dia mengusap rambutku dengan manja dan mencium keningku.
Tapi
sayangnya cerita kami tak berlanjut sampai tahap pacaran. Karena setelah
terakhir pertemuan dimalam itu aku tak pernah lagi mendapatkan surat darinya.
Dia juga tak pernah lagi berkunjung kerumahku.
Aku
bingung dan aku tak pernah tahu apa yang harus aku lakukan. Aku memang baru
pertama kali merasakan perasaan yang begitu dalam kepada lawan jenisku. Untuk
pertama kalinya aku merasakan cinta, meresapi makna yang ada didalamnya.
Hingga
akhirnya aku memutuskan untuk melupakan segala tentangnya. Berusaha untuk
menghilangkan kenangan indah yang baru pertama kali aku rasakan.
Beberapa
tahun setelah kepergiannya, Kyana memberikan kabar yang amat mengejutkanku.
Kabar yang mengharuskanku untuk mengingat kenangan dimasa lalu. Kenangan yang
telah tersimpan kini harus ku putar kembali.
“Vaelisa,
sebelumnya aku minta maaf sama kamu. Aku bukan bermaksud
untuk menyembunyikan
semuanya dari kamu. Tapi aku hanya menuruti
perkataan Aldy, Sa. Aku tak tega
jika harus melihat ia memohon-mohon seperti
itu.”
“Sudahlah
Ky. Itu hanya sebuah masa lalu.” Jawabku dengan nada datar
“Begini
Sa, sebenarnya, Aldy itu pecandu narkoba.”
Mendengar
perkataan Kyana, aku jadi sudah tak bersemangat untuk mendengarnya. Rasanya
telingaku telah tersumbat dengan kapas setebal batu kerikil.
“Tunggu
dulu Sa. Aku belum selesai.”
Kyanapun
melanjutkan ceritanya.
“Dia
memang pecandu narkoba, tapi sebenarnya dia itu tulus sama kamu Sa. Aku telah
lama mengenal Aldy. Dia tak pernah jatuh cinta dengan seorang wanita. Wanita
itu Cuma dianggap sebagai perusak hidupnya. Dia jadi seorang pecandu narkoba
karena dia kecewa dengan Mamanya yang telah mengkhianati Papanya. Mamanya
meninggalkan rumah dan pergi dengan laki-laki lain. Tapi, sejak kehadiran kamu
dia merasakan itu semua. Merasakan apa yang dinamakan cinta dan bagaimana cara
memberikan cinta yang tulus kepada orang lain.”
“Iya
Ky. Ini bukan salah kamu kok. Mungkin
keadaan yang membuat aku dan
Aldy tak
bisa bersatu. Sekarang dia dimana Ky? ”
“dia
disurga Sa.”
Aku
tak bisa menahan lagi air mata ini, sungguh kali ini aku lemah. Aku hanya tak
menyangka hari ini semuanya benar-benar berakhir. Cukup sampai disini, ku harus
memahami waktu dan takdir, bahwa waktu dan takdir tak mengijikan kita menjalin
sebuah perasaan yang semakin jauh, bahwa cinta kita tak bisa bersatu, tak
saling memiliki, dan tersadar cinta ini hanya untuk sekali seumur hidupku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar